Sinopsis Film Terbaru, Film Korea, Film Jepang, Film Taiwan, Film China, Film Indonesia, Drama Korea, Movie Trailer

Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 9 Bagian Kedua

Joon Jae mengingatkan ayahnya bahwa dia telah membuangnya dan ibunya dan membuang semua saat-saat mereka masih bersama tanpa berbalik kebelakang. Joon Jae memintanya untuk tidak mengingat apa yang telah ia lepaskan dan  lebih baik melupakannya. “Kau tahu saat kau hidup, kehidupan tidak berjalan seperti yang kau inginkan,” ucap Ayah. Ayah berkata sekarang dia sudah tua dan saatnya untuk membereskan warisannya, dan berharap Joon Jae akan pulang ke rumah. Joon Jae berkata tidak, dan memberitahu ayahnya bahwa dia tidak akan menerima apapun, entah itu uang atau cara hidupnya atau cara menyingkirkan orang.

“Saya tidak berharap menerima apapun darimu. Saya tidak ingin terlibat denganmu. Saya tidak ingin bertemu denganmu,” ucap Joon Jae. Tapi sebelum pergi, Joon Jae mendoakan agar ayahnya selalu sehat. Ayah berdiri dari tempat duduknya dan memanggil Joon Jae untuk menghalanginya pergi, namun tiba-tiba saja dia merasa pusing dan pandangannya kabur.

Joon Jae memutuskan pulang. Sepanjang perjalanan saat menyetir mobil dia hanya diam, dan sepertinya Sim Chung tahu suasana hati Joon Jae sedang buruk. Setibanya mereka di rumah, Joon Jae meneguk pil obat dan memberitahu Sim Chung, “Pergi jika kau mau. Ketika saya memberitahumu, ‘jangan menyerah akan apa yang telah kau pilih.’ Itu hanya omong kosong. Mana ada hal seperti itu? Saya juga nyaman dan baik-baik saja ketika kau tak ada disini.”

Joon Jae masuk dan mencoba untuk tidur dan dia bermimpi saat masih kecil dulu menangis sendirian dalam kamarnya karna merasa sakit. Kemudian kita melihat ada Sim Chung yang duduk disamping Joon Jae sambil memegang tangannya. Saat Joon Jae membuka matanya, Sim Chung bertanya, “Apa kau baik-baik saja?.”

Ada kompresan di kepala Joon Jae, dan Sim Chung memberitahunya bahwa dia melakukan ini setelah menontonnya di TV untuk menurunkan demamnya. Joon Jae bertanya siapa yang menyuruhnya melakukan ini, dan memintanya untuk pergi .

Namun Sim Chung tahu bahwa bukan itu yang sebenarnya dimaksudkan oleh Joon Jae, Joon Jae berharap dia akan tetap berada di sampingnya. Sim Chung tahu seberapa banyakpun Jooon Jae menyuruhnya pergi, ‘tidak, saya tidak ingin. Saya tidak akan menyerah’—kata-kata itulah yang diharapkan Joon Jae untuk diucapkan oleh Sim Chung.

Joon Jae pun teringat akan ucapannya barusan saat meminta ayahnya untuk melupakannya. Sim Chung berkata bahwa apapun yang ia ucapkan, dia akan tetap berada disisinya tanpa  menyerah. Dia menasihati Joon Jae untuk tak marah karna tak bisa mengucapkan apa yang ingin ia katakan: “Apa yang ingin benar-benar kau katakan,” tanya Sim Chung dengan lembut.

Joon Jae menghela nafasnya, dan tiba-tiba saja air matanya menetes saat mengakui bahwa dia tak bisa mengatakan apa yang benar-benar ingin ia katakan pada ayahnya. Joon Jae berkata dia tak bisa mengatakan satu katapun.

Sim Chung duduk mendengarkan disampingnya, saat Joon Jae mulai menceritakan bahwa betapa sulitnya baginya setelah meninggalkan rumah ayahnya. Dia sangat membenci ayahnya, tapi dia berpikir ayahnya mungkin mencarinya sehingga dia menunggu tanpa mengganti nomor telponnya, tapi pada akhirnya dia merasa kesepian karna tak sekalipun ayahnya menelponnya. Joon Jae lanjut bercerita bahwa dia mengikuti ujian kualifikasi sendirian dan kuliah dengan usahanya sendiri dan tinggal sendirian.

Air mata terus menetes  di pipi Joon Jae saat berkata, “Betapa saya sangat merindukannya. Saya sangat merindukannya.” Joon Jae menangis dengan terisak-isak dan Sim Chung memeluknya untuk menenangkannya.

Setelah duduk menemaninya selama beberapa saat, Sim Chung bertanya, “Apa kau sudah merasa baikan?.” Joon Jae berkata ya, dan kemudian menyinggung dengan terbatah-batah saat dia menangis di depan Sim Chung. Joon  Jae mengaku bahwa dia tidak banyak menangis, dan hanya sedikit air mata dan berusaha meyakinkan Sim Chung bahwa dia meminum obat demam sebelum tidur sehingga tidak berpikir dengan benar.

Joon Jae pun memintanya untuk tidak memberitahu Nam Doo dan Tae Oh tentang hal ini. Sim Chung berkata dia telah melupakannya, namun meminta Joon Jae agar mulai dari sekarang dia memberitahunya apa yang tak bisa ia katakan kepada orang lain.

“Saya akan mendengarkan dan melupakan semuanya. Dengan semua yang ada padaku,” ucap Sim Chung.

Joon Jae memegang tangannya saat Sim Chung akan pergi dan  bertanya, “Sungguh, apa kau akan melupakan semuanya?” Sim Chung mengangguk, dan Joon Jae bertanya, “Lalu apa kau akan melupakan ini juga?,” dan tiba-tiba saja mencium bibir Sim Chung.

Keesokan paginya Joon Jae sudah bangun lebih awal dan memasak pasta untuk Sim Chung. Nam Doo datang ke dapur dan berkomentar bahwa dia lebih suka nasi dibanding mie dan Sim Chung lah yang paling suka pasta. Joon Jae pura-pura tak tahu, dan memberitahunya bahwa dia membuat pasta ini  karna ingin memakannya.
Nam Doo melihat ekspresi Joon Jae saat memasak dan bertanya, “Apa kau melakukannya untuk memakannya sendiri?.” Sementara itu, Sim Chung berdandan yang cantik di kamarnya  dan mengenakan pakaian yang indah untuk sang pujaan hati.

Sarapan pagi telah tersedia, dan saat Sim Chung datang ke meja makan, Nam Doo pun memuji kecantikannya. Tae Oh memotret Sim Chung di ponselnya, dan Joon Jae segera merebut ponselnya dari tangannya, dan memperingatkan agar  dia tidak memotretnya tanpa izin langsung Sim Chung.

Meskipun Sim Chung berkata dia tak apa-apa, Joon Jae menghapus fotonya di ponsel Tae Oh. Tae Oh menatapnya dengan sinis, dan saat Joon Jae berbalik memandangi Sim Chung dia malah jadi kikuk karna kembali teringat kejadian semalam saat mengecup bibirnya untuk pertama kalinya.

Sim Chung sarapan bersama yang lainnya, sementara Joon Jae memilih masuk ke ruang bacanya. Joon Jae mengintip dari kaca dan bertanya-tanya mengapa Sim Chung baik-baik saya, sementara dia satu-satunya yang merasa canggung. Namun diam-diam, Joon Jae memandangi foto Sim Chung barusan yang ia kirim ke ponselnya dengan penuh kekaguman sebelum menghapusnya di ponsel Tae Oh.

Tak lama, Si Ah datang ke rumah dan membawakan beberapa file untuk Joon Jae. Dia sejenak menoleh pada Sim Chung dan mengajaknya untuk bicara empat mata di dekat kolam renang. Sim Chung sepertinya cemburu dan berusaha mengintip, namun Si Ah langsung menutup pintunya satu persatu.

Si Ah menunjukkan sebuah file dan menjelaskan bahwa beberapa hari yang lalu sebuah lokasi zaman Joseon ditemukan saat konstruksi pembangunan kembali apartemen di Dapsimni.  Si Ah mengkonfirmasi bahwa  gambar yang dilihat oleh Joon Jae adalah tempat rumah keluarga Kim Dam Ryung.
Joon Jae segera tertarik melihat gambarnya satu persatu, sementara Si Ah menginformasikan bahwa setelah memperbaiki barang peninggalan dari kapal karam itu, mereka akan membuka sebuah pameran.

Sambil melihat gambar lokasinya satu persatu, kita kembali flashback ke jaman Joseon dimana Dam Ryung tiba-tiba saja terbangun dari tidurnya karna sebuah mimpi. Dia berjalan mondar-mandir di rumahnya sambil bertanya-tanya dalam hatinya, “Sekarang hanya tersisa 19 hari sampai bulan purnama di bulan terakhir. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan agar orang yang ada dalam mimpiku percaya bahwa keberadaanku nyata?” Sampai akhirnya Dam Ryung terpikir akan sebuah ide.

Kembali ke zaman Seoul modern dimana pihak arkeolog yang menyusur sebuah lokasi yang mereka duga tempat tinggal Dam Ryung di jaman Joseon, kembali menemukan sebuah kotak yang dikubur dalam tanah.
Sementara itu, diam-diam Seo Hee mengganti obat untuk mengobati penyakit katarak suaminya. Dia menyarankan agar mereka menyewa orang baru untuk menggantikan Wakil Direktur Nam yang sekarang tengah terbaring di rumah sakit, dan CEO Gil Joong  memberitahu istrinya agar mereka menunggu sedikit lagi sampai kesehatannya pulih.

Nam Doo datang ke klinik hewan langganan Jin Joo dan berlagak seolah-olah orang kaya yang menghabiskan ribuan dollar untuk seekor anjing yang ia beri nama Goo Bek (900). Tidak hanya itu Nam Doo telah menyewa seorang pria penggosip yang datang di sebuah pertemuan sosial yang sering didatangi Jin Joo bersama wanita-wanita kaya lainnya.

Pria itu menginformasikan ibu sosialita lainnya termasuk Jin Joo bahwa seorang pria bernama Kim Jae baru saja kembali ke Korea, yang ketika di luar negeri berkecimpung dalam real estate internasional dan mengubahnya menjadi seorang pria yang kaya raya. Pria  itu menginformasikan bahwa orang ini memiliki bangunan 57 lantai di Dubai, dan bermain golf dengan Mansour yang mereka kenal.

Dia menceritakan bagaimana nyonya Choi kenalan mereka dari kontruksi-L ingin berinvestasi dan membawa tasnya yang berisi uang dan pergi ke Dubai, tapi kembali setelah tak bisa bertemu dengannya. Dia menginformasikan mereka bahwa Kim Jae tengah dalam projek pembangunan kondominium tapi buru-buru kembali ke Seoul  untuk menemui tunangannya yang sangat ia cintai. Pria ini juga menambahkan bahwa Kim Jae banyak membelanjakan semua barang-barang untuk tunangannya di mall Gangnam setiap hari.

Nam Doo menjelaskan sekarang tinggal Kim Jae alias Joon Jae yang harus jalan di mall sekitar seminggu. Joon Jae bertanya siapa yang akan menjadi tunangannya, dan Nam Doo memanggil Tae Oh yang mengenakan wig, high heels dan pakaian wanita. Joon Jae pun langsung protes dengan ide Nam Doo. Joon Jae menolak saat Nam Doo menyarankan agar mereka membawa Sim Chung, namun dia tiba-tiba saja datang bergabung. “Saya akan pergi kemana?,” tanya Sim Chung.

Nam Doo tahu Sim Chung sangat suka menonton drama, dan  berusaha menjelaskan apa itu drama yang sering ia tonton. Sim Chung tahu itu hanya sebuah drama, dan mereka hanya ada di studio. Joo  Jae tersenyum tipis sambil mengelus rambutnya dan berkata, “Chung kita ternyata pintar.”

Nam Doo menjelaskan bahwa mereka akan syuting seperti dalam sebuah drama dimana Joon Jae akan  berperan sebagai seorang pria yang kaya dan keren dan Chung akan berperan sebagai tunangannya dan mereka akan menikah.

Mendengarnya Sim Chung berkata dengan tersipu malu, “Saya suka.” Joon Jae memperingatkan bahwa ada tiga hal yang tidak boleh dilakukan oleh Sim Chung ketika dia ada disana – jangan bicara, jangan tertawa dan jangan makan. Sim Chung mengaku sulit jika dilarang makan, dan  Joon Jae berjanji akan membelikan makanan yang lebih lezat setelah itu.

Kemudian kita melihat, Joon Jae berpakaian mewah layaknya seorang chaebol didampingi Sim Chung dan dikawal dua orang bodyguard dan berbelanja banyak barang-barang mahal dan perhiasan di mall. Hari berikutnya, Joon Jae kembali datang ke mall bersama Sim Chung, sementara Jin Joo protes kepada seorang pegawai mall karna gagal menggunakan ruangan VVIP yang telah ia pesan.

Tak lama Joon Jae datang bersama Sim Chung dengan gaya chaebol mereka, dan mereka segera disambut. Jin Joo merasa wanita yang berdiri di depannya mirip dengan wanita yang pernah bertengkar dengannya beberapa waktu lalu. Joon Jae sengaja menyebutkan kata Dubai, dan Jin Joo segera menyadari sesuatu dan kemudian memanggil Nam Dok dengan sebutan ‘ayah Goo Bek’ setelah melihatnya ada disana.

Jin Joo bertanya untuk mengkonfirmasi apa dia datang bersama mereka. Nam Doo mengkonfirmasinya dan mengaku bahwa dia menjalankan sebuah perusahaan investasi dan beberapa tamu VIP datang dari luar negeri. Jin Joo kembali bertanya apa pria itu berasal dari Dubai yang memiliki bangunan 57 lantai, dan berteman dengan Mansour. Dia mengingat nama orang itu adalah Kim Jae yang sangat jatuh cinta dengan tunangannya. Nam Doo berlagak seolah-olah kaget dia bisa tahu dan memperingatkan agar Jin Joo tidak memberitahu pada siapapun.

Sim Chung dan Joon Jae menjadi pusat perhatian orang yang ada di mall, dan Sim Chung kemudian berbisik di telinga Joon Jae bahwa dia lapar dan meminta untuk dibelikan kue beras pedas dan sosis darah. “Seperti biasa standarmu tidak pas, baiklah, mari kita sering-sering membelinya,” ucap Joon Jae sambil tersenyum.

Jin Joo diam-diam mengikuti mereka di mall dan memanggil Nam Doo. Dia meminta bantuan ayah Goo Bek alias Nam Doo untuk mengatur makan siang bersama Kim Jae dan mengungkapkan ketertarikannya untuk berinvestasi. Nam Doo menginformasikan bahwa Kim Jae sangat ingin makan makanan rumahan Korea,  dan Jin Joo dengan penuh antusias merekomendasikan makanan rumahannya yang enak.

Kemudian di rumah, Jin Joo menceritakan tentang Kim Jae si kaya raya pengusaha real estate pada suaminya dengan penuh antusias dan bagaimana seorang kenalannya akan membantu mereka untuk berkenalan dengannya. Jin Joo mengatakan bahwa orang itu begitu dekat dengan Mansour dan bermain golf bersama. Meskipun Si Ah menebak orang itu hanya seorang penipu, Jin Joo bersikeras bahwa dia telah mengkonfirmasi siapa Kim Jae.

Jin Joo berkata bahwa bahkan jika mereka memberinya sekarang jutaan dollar, orang itu bahkan tidak akan melihatnya sekilas. Si Ah menduga itu hanya semacam skema penipuan Ponzi dimana orang itu menarik para investor seolah-olah dia mampu menghasilkan segalanya tapi  orang itu hanya menolak mereka, yang membuat para korbannya untuk semakin ambisius untuk mendapatkannya.
Dong Sik dan Jin Joo sepertinya cukup was-was setelah mendengar penjelasannya sehingga mengajak Si Ah untuk ikut makan bersama Kim Jae nanti.

Dalam perjalanan pulang Nam Doo memuji  Sim Chung atas bantuannya barusan. Tanpa mengetahui yang sebenarnya, Sim Chung berkata bahwa dia juga senang hari ini karna bisa membantu Joon Jae dengan perbuatan baiknya.

Dia kemudian menunjuk pada sebuah mesin pengambil boneka di pinggir jalan dan berkata bahwa pria yang bertugas menjaganya adalag seorang penipu. Joon Jae bertanya siapa yang mengatakannya, dan Sim Chung menjelaskan bahwa dia terus mencoba untuk menarik satu tapi tak bisa mendapatkan satupun sehingga dia bertanya pada orang-orang dan diberitahu bahwa pria itu adalah seorang penipu.

 “Bajingan,” ucap Sim Chung dan sepertinya trio sekawan tersinggung dengan ucapannya. Nam Doo berkata bahwa penipu tidak selamaya orang yang jahat, dan mereka hanya bajingan yang bahkan menipu yang lebih bajingan. Meskipun demikian, Sim Chung berkomentar bahwa tetap saja mereka membohongi orang-orang. Nam Doo kembali bertanya apa Sim Chung tak pernah berbohong dan apa dia tak memiliki rahasia yang tak bisa ia beritahukan. Sim Chung diam dan tak bisa berkata-kata, membuat Joon Jae protes karna Nam Doo menyudutkannya.

Nam Doo heran melihat Joon Jae membela Sim Chung, dan bertanya, “Antara kalian berdua, apa ada sebuah perubahan  dalam hubungan kalian atau sesuatu?” Sim Chung keceplosan berkata ya, dan Joon Jae berkata tidak. Nam Doo mendesak yang mana yang benar, sehingga Joon Jae mengancamnya untuk turun jika Nam Doo terus bicara di mobilnya.

Tak lama, Joon Jae ditelpon oleh Si Ah yang mengajaknya datang ke museum untuk diperlihatkan sesuatu tentang barang peninggalan Dam Ryung.  Joon Jae datang sendiri kesana, dan Si Ah mengaku belum melihatnya dan menginformasikan bahwa seorang rekannya yang menemukannya berkata benda yang satu ini sangat spesial karna pada umunnya lukisan atau karya kaligrafi yang digali dari sebuah rumah tak bisa bertahan dalam kondisi yang bagus; tapi yang satu ini dikubur dalam sebuah kotak yang tersegel. “Seolah-olah seseorang memintanya untuk bisa ditemukan di masa depan,” ucap Si Ah.

Si Ah membawanya ke ruang tempat penyimpanan barang-barang antik, dan Joon Jae meminta permisi pada Si Ah untuk melihatnya sendiri. Joon Jae masuk ke ruangan penyimpanan itu , dan akhirnya melihat sebuah lukisan yang terpajang dari kejauhan dan tiba-tiba saja listrik di museum itu mati.

Joon Jae pun perlahan mendekati lukisan itu. Dia menyalakan sebuah korek api, dan begitu terkejut setelah melihat lukisannya.

Epilog
Dam Ryung berjalan mondar-mandir dan berpikir dalam hatinya, “Mulai dari sekarang dan sampai bulan purnama dari bulan terakhir tahun ini, hanya tersisa 19 hari. Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan untuk seseorang yang ada dalam mimpiku untuk mempercayaiku?”

Dia kemudian terpikir sebuah ide. Dam Ryung memanggil seorang pelukis, dan berpesan, “Kau harus sangat teliti. Karna  itu harus bertahan untuk waktu yang sangat lama.”

Sumber by aktriskorea.web.id/sinopsis-drama-korea/sinopsis-the-legend-of-the-blue-sea-episode-9-bagian-kedua-drama-korea/
0 Komentar untuk "Sinopsis The Legend of the Blue Sea Episode 9 Bagian Kedua"

Back To Top